PKKS SPENSAKU 2024 - 1.3.1

Data: 1.3.1

1.3.1. Empati terhadap peserta didik dalam pengambilan keputusan 1. Kebijakan dan Keputusan yang Mempedulikan Kesejahteraan Peserta Didik Kebijakan Penanggulangan Stres Akademik: Kepala sekolah merumuskan kebijakan atau program untuk membantu Peserta Didik yang mengalami tekanan akademik, seperti pemberian waktu tambahan untuk tugas, program konseling, atau bimbingan akademik. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi mental dan emosional Peserta Didik, yang menunjukkan empati terhadap tantangan yang mereka hadapi. https://drive.google.com/drive/folders/1VGfNhIVeY9XXXp7Gc1ErYKDKVwGaqLvE?usp=drive_link
Penerapan Kebijakan Fleksibel di Tengah Pandemi: Pada masa pandemi COVID-19, kepala sekolah memberikan kebijakan yang lebih fleksibel dalam hal pembelajaran jarak jauh, misalnya dengan menyediakan opsi rekaman materi pelajaran bagi Peserta Didik yang kesulitan mengakses pembelajaran secara langsung. Hal ini menunjukkan kepedulian terhadap situasi Peserta Didik yang menghadapi kesulitan, baik dari sisi teknologi maupun kesehatan mental. https://drive.google.com/drive/folders/1VGfNhIVeY9XXXp7Gc1ErYKDKVwGaqLvE?usp=drive_link
2. Wawancara atau Diskusi dengan Peserta Didik untuk Memahami Kebutuhan dan Tantangan Mereka Survei Kepuasan Peserta Didik dan Umpan Balik: Kepala sekolah secara rutin mengadakan survei atau forum diskusi dengan Peserta Didik untuk mendengarkan perasaan dan pengalaman mereka terkait pembelajaran, kebijakan sekolah, atau masalah pribadi mereka. Hasil dari survei atau diskusi ini digunakan untuk mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan Peserta Didik, seperti perubahan dalam cara mengajar atau penyediaan dukungan tambahan. https://drive.google.com/drive/folders/1zojfJdwAmRtFqWuprjhBiZBdTMqCDCjG?usp=drive_link
Pertemuan Rutin dengan Perwakilan Peserta Didik: Kepala sekolah mengadakan pertemuan rutin dengan perwakilan Peserta Didik atau komite Peserta Didik untuk mendengarkan langsung masukan tentang kondisi belajar mereka. Keputusan yang diambil setelah pertemuan ini menunjukkan bahwa kepala sekolah memprioritaskan perspektif Peserta Didik dalam pengambilan kebijakan. https://drive.google.com/drive/folders/1zojfJdwAmRtFqWuprjhBiZBdTMqCDCjG?usp=drive_link
3. Keputusan yang Mengutamakan Inklusi dan Keberagaman Kebijakan untuk Mendukung Peserta Didik Berkebutuhan Khusus: Kepala sekolah mengambil keputusan untuk menyediakan layanan pendidikan yang lebih inklusif bagi Peserta Didik dengan kebutuhan khusus, misalnya dengan menyediakan akses ke fasilitas khusus, pendampingan individual, atau modifikasi kurikulum. Keputusan ini didasari oleh empati terhadap kesulitan yang dihadapi oleh Peserta Didik berkebutuhan khusus dan upaya untuk memastikan mereka tetap dapat berpartisipasi dalam pembelajaran yang setara. https://drive.google.com/drive/folders/139gvFWZ4WuD648yZc2qFxU2trEiY7441?usp=drive_link
Program Dukungan untuk Peserta Didik dari Latar Belakang Sosial Ekonomi Rendah: Kepala sekolah merancang kebijakan atau program yang mendukung Peserta Didik yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang lebih rendah, seperti beaPeserta Didik, pemberian alat tulis gratis, atau pembayaran uang sekolah yang fleksibel, untuk memastikan mereka tidak tertinggal atau merasa terdiskriminasi. https://drive.google.com/drive/folders/139gvFWZ4WuD648yZc2qFxU2trEiY7441?usp=drive_link
4. Pemberian Dukungan Sosial dan Emosional bagi Peserta Didik Program Konseling dan Pendampingan Psikologis: Kepala sekolah mendirikan atau memfasilitasi layanan konseling dan pendampingan psikologis untuk Peserta Didik yang membutuhkan, terutama mereka yang menghadapi masalah pribadi atau emosional, seperti bullying, kecemasan, atau depresi. Keputusan untuk mengadakan layanan ini menunjukkan bahwa kepala sekolah mengambil langkah untuk mendukung kesejahteraan emosional Peserta Didik. https://drive.google.com/drive/folders/19bR8rXm7Cp2cDYX_7tNx-JuDQBIsIEbQ?usp=drive_link
Kegiatan Pembinaan Karakter dan Kesehatan Mental: Kepala sekolah mengembangkan program pembinaan karakter atau kegiatan kesehatan mental yang dirancang untuk membantu Peserta Didik mengelola emosi mereka, meningkatkan keterampilan sosial, dan membangun ketahanan mental. Hal ini menunjukkan empati terhadap tantangan sosial-emosional yang dihadapi Peserta Didik. https://drive.google.com/drive/folders/19bR8rXm7Cp2cDYX_7tNx-JuDQBIsIEbQ?usp=drive_link
5. Penerapan Keputusan yang Responsif terhadap Masukan Peserta Didik Tindak Lanjut terhadap Keluhan atau Permintaan Peserta Didik: Kepala sekolah secara aktif menindaklanjuti keluhan atau masukan Peserta Didik terkait masalah yang mereka hadapi, seperti masalah lingkungan sekolah, kebijakan yang terlalu ketat, atau ketidaknyamanan lainnya. Keputusan yang diambil untuk memperbaiki situasi ini menunjukkan bahwa kepala sekolah mendengarkan dan merespons dengan empati. https://drive.google.com/drive/folders/10fVvOelmCsIeUb4IJ86OKVqVXQMvYgkS?usp=drive_link
Keputusan untuk Menyesuaikan Kurikulum dengan Kebutuhan Peserta Didik: Kepala sekolah melakukan penyesuaian kurikulum berdasarkan feedback Peserta Didik yang merasa bahwa materi yang diajarkan kurang relevan atau terlalu sulit. Ini menunjukkan bahwa kepala sekolah berempati dengan kesulitan belajar Peserta Didik dan mengambil langkah untuk membuat kurikulum lebih relevan dan terjangkau bagi mereka. https://drive.google.com/drive/folders/10fVvOelmCsIeUb4IJ86OKVqVXQMvYgkS?usp=drive_link
6. Penciptaan Lingkungan Sekolah yang Aman dan Nyaman Kebijakan Anti-Bullying yang Kuat: Kepala sekolah merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan anti-bullying yang mencakup pendidikan untuk Peserta Didik dan staf, serta mekanisme pengaduan yang aman bagi Peserta Didik yang merasa terancam. Keputusan ini diambil dengan empati terhadap perasaan dan keselamatan Peserta Didik yang menjadi korban bullying. https://drive.google.com/drive/folders/1Z3sAJfPvg40OE7BmWg5QgQVesBYJQ5Si?usp=drive_link
Pembangunan Fasilitas Ramah Peserta Didik: Kepala sekolah mengambil keputusan untuk membangun fasilitas yang nyaman dan ramah Peserta Didik, seperti ruang rekreasi, ruang belajar yang nyaman, atau area terbuka yang dapat digunakan Peserta Didik untuk relaksasi. Keputusan ini berfokus pada menciptakan suasana yang mendukung kesejahteraan fisik dan mental Peserta Didik. https://drive.google.com/drive/folders/1Z3sAJfPvg40OE7BmWg5QgQVesBYJQ5Si?usp=drive_link
7. Pemberian Kebijakan untuk Mengakomodasi Perbedaan Jadwal atau Kebutuhan Khusus Kebijakan Jadwal Fleksibel untuk Peserta Didik dengan Kondisi Khusus: Kepala sekolah memberikan fasilitas fleksibilitas jadwal untuk Peserta Didik yang menghadapi masalah kesehatan atau kebutuhan pribadi, seperti Peserta Didik dengan penyakit kronis, Peserta Didik yang merawat anggota keluarga yang sakit, atau Peserta Didik yang memiliki masalah transportasi. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan empati terhadap situasi pribadi Peserta Didik yang mempengaruhi kehadiran atau kinerja mereka di sekolah. https://drive.google.com/drive/folders/1JaA8bQihW56CXpn6wE4P2AZ97eVeHSNb?usp=drive_link
Perubahan Jadwal untuk Mendukung Keseimbangan Peserta Didik: Kepala sekolah memutuskan untuk mengubah jadwal pelajaran agar lebih seimbang, dengan mempertimbangkan kesejahteraan fisik dan mental Peserta Didik, seperti mengurangi jumlah jam pelajaran berturut-turut atau memberikan waktu istirahat yang lebih panjang. https://drive.google.com/drive/folders/1JaA8bQihW56CXpn6wE4P2AZ97eVeHSNb?usp=drive_link
8. Menciptakan Kebijakan yang Mengutamakan Keseimbangan Akademik dan Kehidupan Sosial Peserta Didik Pengaturan Waktu untuk Aktivitas Ekstrakurikuler: Kepala sekolah mengatur waktu yang cukup untuk kegiatan ekstrakurikuler sehingga Peserta Didik tidak hanya fokus pada akademik tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial, emosional, dan kreatif. Keputusan ini menunjukkan empati terhadap kebutuhan Peserta Didik untuk memiliki keseimbangan yang sehat antara kegiatan akademik dan sosial. https://drive.google.com/drive/folders/15vN6Q4OgdJcf--IPzigsGYhchn1QaZn0?usp=drive_link
Program Pengenalan Diri untuk Peserta Didik Baru: Kepala sekolah mengembangkan program orientasi bagi Peserta Didik baru yang membantu mereka untuk lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan merasa diterima. Hal ini mencerminkan perhatian terhadap kebutuhan emosional Peserta Didik yang baru pertama kali berada di lingkungan sekolah. https://drive.google.com/drive/folders/15vN6Q4OgdJcf--IPzigsGYhchn1QaZn0?usp=drive_link